Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2009

30 Kepala Sekolah Dipecat

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya Sahudi menyatakan, dirinya telah memecat 30 kepala sekolah (kasek) di Surabaya karena dinilai telah melakukan penyimpangan bantuan operasional sekolah daerah (Bopda) 2009. "Sebanyak 30 kepala sekolah dipecat karena melakukan pelanggaran dan 35 pengawas sekolah mengundurkan diri," katanya saat dengar pendapat dengan anggota Komisi D DPRD Surabaya, Kamis (17/12).
Menurut dia, para kasek tersebut dinilai telah menyalahgunakan kewenangannya dalam melaksanakan program bopda, salah satunya dalam hal administrasi keuangan. "Saya tegaskan, tidak ada pungli (pungutanm liar) cuma kesalahan administrasi saja," katanya. Namun, Sahudi enggan menyebutkan kepala sekolah mana saja yang dipecat tersebut. "Yang jelas semua sekolah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK. Tapi sebagian sudah diproses di kejaksaan," ujarnya.
Dipecatnya sejumlah kasek tersebut, lanjut dia, menunjukkan bahwa pihaknya sudah melaksanakan program bopda sesuai aturan yang berlaku. "Ini suatu bukti bahwa bopda di Surabaya cukup bagus. Kalau ada laporan dari masyarakat soal penyelewengan bopda kami terus tindak lanjuti," katanya menegaskan.
Sementara itu, Ketua Komisi D Bidang Kesra dan Pendidikan DPRD Surabaya Baktiono menyayangkan masih adanya laporan dari masyarakat terkait dengan penyalahgunaan bopda di sekolah-sekolah, salah satunya adanya pungutan liar (pungli). "Menarik SPP (sumbangan pokok pendidikan) yang tidak sesuai dengan telah ditetapkan dalam APBD sama dengan pungli," katanya. Baktiono menyebutkan jika hal itu ditelusuri maka akan diketahui banyak pungli di sekolah-sekolah. "Namun, kami tidak bisa membeberkan kalau tidak ada buktinya," ucapnya KRjogja.com.

Murid Ditampar Balas Kepruk Guru, Dilakukan Siswa SMP

Ulah Fr, 14, siswa kelas tiga sebuah SMP swasta di kawasan Tulangan, Sidoarjo ini tak patut ditiru. Bocah asal Desa Kemantren Tulangan ini nekat mengepruk gurunya, Ahmad Syaiful Anam, 36, memakai besi cor sepanjang 10 sentimeter.Fr dendam kepada guru yang bertempat tinggal di Desa Kepuh Kemiri RT 1/RW1 Tulangan tersebut karena pernah ditempeleng setelah ditegur tidak lengkap menyerahkan hasil pekerjaan rumah (PR) mata pelajaran Bahasa Inggris. Berdasarkan informasi yang dihimpun Surya, Fr tiba-tiba nekat mengepruk kepala gurunya dengan sebatang besi cor ulir yang dibawanya sejak dari rumah, saat jam pelajaran berlangsung, di ruang kelas IXB, Senin (14) lalu.

Saat itu, Syaiful Anam baru saja duduk di kursinya usai mengucapkan uluk salam. Namun Fr sontak mendekat kemudian memukulkan besi batangan ini mengenai pelipis kiri hingga telinga kiri Syaiful Anam. Mendapatkan serangan mendadak, korban sontak kaget. Batangan besi itu lalu direbut dari tangan Fr. Begitu korban berhasil merebutnya, besi batangan itu lalu dibuang ke lantai kelas dan diinjak dengan kakinya. Namun rupanya amarah Fr tak terbendung. Dengan tangan kirinya, Fr melayangkan bogem mentahnya ke arah korban.

Aksi Fr ini membuat siswa lainnya kaget dan panik. Situasi ruang kelas IXB tak terkendali. Sebagian siswa perempuan, di antara 40 siswa kelas IXB, berhamburan ke luar kelas. Sedangkan siswa laki-laki berusaha melerai ‘pergumulan’ siswa-guru tersebut. Ulah kalap Fr berakhir setelah sejumlah guru lainnya berusaha mengamankannya. Fr lantas digiring ke ruang kepala sekolah dan selanjutnya dibawa ke Mapolsek Tulangan.

Di saat yang sama, korban yang terluka di bagian pelipis kirinya melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Tulangan. “Keduanya datang bersamaan saat melapor ke polsek Senin lalu,” kata seorang penyidik Polsek Tulangan, Rabu (16/12). Setelah ditelusuri, ulah brutal Fr ini dipicu rasa dendam kepada guru Bahasa Inggrisnya tersebut, karena Fr pernah ditempeleng korban pada Kamis (10/12) pekan lalu. Hukuman itu diterima Fr saat dia diminta menyerahkan hasil pekerjaan rumahnya. Dari lima item soal, Fr hanya mengerjakan satu item soal. Saat ditanya gurunya kenapa hanya satu soal yang dikerjakan, Fr berasalan dirinya malas. “Diduga karena jawaban inilah, korban emosi, “ kata Kapolsek Tulangan AKP Mujiono, Rabu (16/12).

Kepada polisi, sejumlah teman FR mengakui jika Fr terkenal agak bandel di kelasnya. Namun teman Fr ini tidak menjelaskan sejauh mana kebandelan Fr. Saat diperiksa polisi, Fr mengaku dendam kepada gurunya tersebut. Dia juga mengaku tidak suka dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. “Kayaknya pelaku ini kategori siswa bandel. Saat diperiksa penyidik, tidak ada mimik rasa penyesalan,” ungkap Mujiono.

Dari penelusuran polisi, diduga kuat emosi Fr tidak stabil. Saat diperiksa polisi, Fr juga mengaku kerap menerima pukulan dari ayahnya yang pengangguran. Namun saat ditanya apakah dia juga membalas pukulan sang ayah, Fr menjawab tidak. “Karena dia bapak saya sendiri,“ kata Mujiono menirukan pengakuan Fr.

Mujiono menyatakan, polisi akan menjerat tersangka dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan. Ancaman hukumannya empat tahun penjara. Namun karena tersangka masih di bawah umur, polisi hanya mengenakan wajib lapor dan tidak melakukan penahanan. Perlakuan itu diberikan karena Fr berstatus siswa yang hendak mengikuti ujian. “Namun kasusnya tetap kami proses sesuai hukum,“ tegas Mujiono.

Sementara itu, Syaiful Anam belum bisa dikonfirmasi. Saat Surya mendatangi rumahnya, Rabu (16/12) malam, di Dusun Kepuh RT 1/RW 1 Desa Kepuh Kemiri, Tulangan, seorang perempuan yang mengaku istrinya, meminta agar Surya tidak mewawancarai Syaiful Anam. “Suami saya lagi terbaring, masih sakit,“ katanya, pukul 21.00 WIB. Meski begitu, istri Syaiful Anam membenarkan jika kejadian itu sudah dilaporkan suaminya ke polisi. “Memang sudah dilaporkan kok,“ katanya.

Tidak Ramah Anak

Menurut pengamat pendidikan yang juga Penasihat Dewan Pendidikan Jatim, Daniel M Rosyid, peristiwa kekerasan yang kerap terjadi pada lingkup dunia pendidikan merupakan imbas dari pendekatan pengajaran yang keliru. Proses pendidikan tidak berorientasi pada anak atau tidak ramah anak. “Sekolah hanya menjadi tempat guru mengajar, tetapi bukan tempat murid belajar. Proses pendidikan ini tidak memperhatikan kondisi murid,” kata Daniel ketika dihubungi Surya, Rabu (16/12) malam. Dengan pola pendekatan sistem pengajaran semacam itu, menurutnya kekerasan kepada siswa akan terus terjadi. Baik berbentuk kekerasan fisik maupun non fisik, misalnya mengabaikan pendapat siswa dan menutup ruang diskusi atau dialog dengan siswa.

Daniel menduga kejadian kekerasan guru dan siswa di Sidoarjo juga terpengaruh oleh kondisi menjelang ujian nasional. Baik siswa maupun guru saat ini tengah menghadapi tingkat stres yang tinggi. “Saya menduga mendekati unas, guru dan murid mengalami tingkat stres tinggi. Bukan tidak mungkin berikutnya akan ada kejadian kesurupan massal atau histeria siswa sekelas,” kata Daniel.

Yang lebih perlu diwaspadai adalah kondisi para siswa kelas 3 SMP dan SMU yang kini harus duduk di bangku sekolah antara 6-7 jam per hari. Belum lagi pelajaran tambahan di luar sekolah. Akibatnya, kegiatan hobi siswa seperti musik dan olahrga yang bisa menjadi ajang refreshing yang menyenangkan menjadi terkurangi.

Menurut Daniel, kejadian seperti di Sidoarjo juga tidak bisa semata-mata dianggap kesalahan guru. Sebab akibat pendekatan pengajaran yang keliru, guru juga menjadi korban. “Menurut saya, sebaiknya diselesaikan di lingkup pendidikan dulu. Tetapi perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam. Sanksi buat guru sebaiknya diperingatkan dulu,” jelas Daniel.SURYA

sebenarnya bukan hal baru lagi murid berani melawan guru. dan betul sekali yang dikatakan oleh bp Daniel M Rosyid jika sekolah hanya tempat mengajar, bukan belajar. sehingga sering kali sekolah seperti tempat majikan dan bawahan, atau ratu dan abdi. setiap ada kesalahan pada siswa, guru lebih menghukum dalam arti pembalasan sikap dari pada pembenaran sikap. ada pepatah jika guru itu berarti di gugu dan di tiru (di anggap dan di ikuti nasiahatnya), tetapi oleh sebagian siswa yang merasa tidak senang dengan sikap si guru yang tidak bersahabat pepatah tadi di ubah menjadi di guyu dan ditinggal turu (di ejek nasihatnya dan kalau mengajar tinggal tidur). dulu sewaktu saya masih SD, ada seorang guru saya yang sangat tidak bersahabat dengan murid-murid. sehingga banyak siswa yang tidak senang denganya termasuk saya. bahkan dia pernah mendapat perlakuan perlawanan fisik dari teman saya meski tidak separah seperti yang di alami oleh bp Syaiful Anam. dan perlakuan sikap dia yang tidak bersahabat itu tetap membekas di hati saya hingga saat ini. karena perlakuan sikap yang tidak bersahabat itu membuat saya tidak pernah sama sekali merasa hormat padanya.dan saya berharap dengan banyaknya kejadian seperti ini, bisa menjadikan para guru untuk bisa berbenah diri.

Jumat, 11 Desember 2009

Ya Ampun, Kepala Sekolah Korupsi Dana Buta Aksara

Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang, Selasa (13/10), menjebloskan Kepala Sekolah Madrasah Aliyah, Kronjo, Kabupaten Tangerang, Isep Rusnawan bin Kosim (42) ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda kelas II Tangerang. Ia ditahan terkait dengan dugaan penyimpangan dana progam pemberantasan buta aksara tahun anggaran 2007."Tersangka Isep adalah satu-satunya tersangka dari tujuh tersangka yang terkait dalam tindak korupsi dana buta aksara sebesar Rp 15,9 miliar," ujar Kepala Seksi Perdata dan Tata Urusan Negara (Kasi Datun) Kejari Tangerang, Dedie Tri Hariadi, kepada wartawan seusai menangkap dan selanjutnya membawa tersangka ke Lapas Pemuda.
Menurut Dedie, penahanan ini dilakukan karena Ketua PKBM Citra Asih ini dapat memengaruhi saksi-saksi lain dengan cara mengirim pesan singkat (SMS). Saat penyidik kejaksaan sedang melakukan pemeriksaan terhadap saksi Junaedi (Bendaraha PKBM Citra Asih), tersangka mengirim SMS kepadanya.

SMS

Dedie menjelaskan, dalam isi SMS tersebut tersangka menyatakan agar Junaedi tetap bertahan, komitmen pada surat pernyataan dan surat kuasa yang telah dibuat karena dia (jaksa) tidak punya bukti jangan sampai terpancing. "Pesan ini jelas mempengaruhi penyelidikan sehingga dilakukan penahanan," ujar Dedie.
Dedie menjelaskan, saat dana dekonsentrasi turun dari pusat tahun anggaran 2007, Isep Rusnawan menerima sebesar 128 juta untuk kegiatan progam pemberantasan buta aksara di wilayah Kabupaten Tangerang. Namun, dalam pelaksanaan Isep membuat surat kuasa kepada Mahyudin, tenaga lapangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tangerang, untuk menjalankan progam PKBM tersebut.
Dalam penyerahan surat kuasa tersebut, Kepala Sekolah Madrasah Aliyah, Kronjo, Kabupaten Tangerang, ini hanya menyerahkan uang sebesar Rp 70 juta kepada Mahyudin dari jumlah 128 juta yang diterimanya, tetapi dalam kwitansi tetap sebesar Rp 128 juta. "Otomatis dengan pengurangan dana tersebut progam kegiatan pengentasan buta aksara banyak yang fiktif," tegas Dedie.
Untuk diketahui, dana Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) itu dari APBN dan APBD Provinsi Banten. Dana itu disalurkan kepada 94 PKBM di 36 kecamatan di Kabupaten Tangerang. Setiap PKBM mengajukan program pemberantasan buta aksara dengan menyiapkan tutor dan peralatan, seperti komputer dan alat tulis kantor, serta peserta. Ternyata, di antara kegiatan itu ada yang fiktif.
Dalam kasus tersebut penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) telah tetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Ketujuh tersangka adalah Sajum (Ketua PKBM) Al-Waqidah, Kpg Besar, Kecamatan Teluknaga), Saefie Sabor (Ketua PKBM Formula, Kpg Taha, Desa Sentul Jaya, Balaraja), Suhabudin (PKBM Seroja, Kecamatan Jayanti), Ahmad Hidayat (PKBM Pendidikan Anak Bangsa, Kecamatan Jambe), Agustin (PKBM Cendana, Kecamatan Kosambi), Drs Heri (PKBM Mekar Sari, Kecamatan Cisoka), dan Drs Isep Rusnawan (PKBM Citra Asri, Kecamatan Panongan) Kabupaten Tangerang. kompas.com

5.000 Guru Berhonor 150.000 Belum Dibayar

Sedikitnya 5.000 guru sukarelawan (sukwan) madrasah dan pondok pesantren di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pertanyakan honor senilai Rp 150 ribu per orang yang belum cair."Kami khawatir belum dicairkannya bantuan tersebut dapat mempengaruhi kinerja kami dalam mengajar," kata salah seorang guru Sukwan, Imam Cahyadi (37) di Cikarang.
Pemberian honor itu, biasa dilakukan setiap enam bulan sekali. "Tapi khusus semester kedua ini mengalami keterlambatan. Kami mendesak agar segera dicairkan," ujarnya. Pihaknya telah menyampaikan keluhan ini ke Kantor Departemen Agama setempat. Namun, belum mendapat respon. "Alasannya, sedang dalam tahap proses," katanya. Senada dikatakan Lisna Wulandari (32), pengajar di Kecamatan Tambun Selatan. Keterlambatan ini baru pertama dialaminya sejak dirinya bekerja sebagai guru dua tahun lalu. "Ini pertama kalinya terjadi, padahal pada tahun sebelumnya selalu tepat waktu," katanya.
Kepala Seksi Pondok Pesatren Kantor Depag Kabupaten Bekasi, Nani Mulyani mengatakan, bantuan honor guru sukwan tersebut saat ini sedang dalam proses dan akan segera cair. "Sedang diproses. Kami janji secepatnya bisa dibagikan," ucapnya. Di wilayah Kabupaten Bekasi saat ini terdapat sedikitnya 5.300 guru Sukawan di tingkat pendidikan madrasah dan pondok pesantren.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Taih Mintarno meminta pemerintah segera merealisasikan desakan tersebut. "Uang tersebut tentu sangat berarti buat mereka, jangan terkesan pemerintah kurang serius dalam menanganinya," kata Taih. Taih juga berpesan kepada seluruh guru sukwan untuk bersabar. "JIka memang masih dalam proses administrasi maka pasti akan cair. Namun, bila justru malah sebaliknya, kami akan memanggil pihak terkait untuk mendiskusikannya," ujarTaih kompas.com

Rabu, 25 November 2009

3 Guru Telanjang Keliling Pasar

Sejumlah pedagang di Pasar Tandjung Anyar, sekitar pukul 17.00 hingga 21.00 pada Minggu (22/11) melihat beberapa orang telanjang bulat dan beberapa lainnya hanya memakai cawat berkeliling pasar, dengan sekujur tubuh lebih dahulu dilumuri cat dan memakai anting-anting dari rentengan koin rupiah yang dilubangi. penampilan mereka layaknya orang gila.
ternyata mereka semuanya PNS dengan profesi guru di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun, hanya tiga orang yang telanjur sampai bugil dan berkeliling pasar. merek kemudian diketahui adalah para guru olahraga dari SDN-SDN di wilayah Kecamatan Mojoanyar, Bangsal, dan Ngoro. Adapun lima guru lainnya belum sempat bugil karena sudah keburu sadar, berasal dari Kecamatan Gedeg, Pacet, Gondang, Sooko, dan Mojosari.
Bagaimana mereka bisa tiba-tiba telanjang di tengah keramaian pasar? Ternyata mereka telah dikerjain oleh Penggendam yang mengaku-ngaku sebagai Asisten I Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Mojokerto. Salah satu korban yang juga guru sebuah SDN di wilayah Mojokerto, menuturkan, dirinya menerima telepon dari seorang pria yang mengaku sebagai Asisten I Bidang Pemerintahan Sekkab Mojokerto Akh Djazuli. penelepon mengatakan bahwa dirinya diminta "Bupati Mojokerto" untuk memerintahkan sang guru agar melumuri tubuh dengan cat hitam dan memakai anting dari koin-koin Rp 100 yang direnteng, kemudian dengan bertelanjang keliling Pasar Tandjung Anyar, Kota Mojokerto, pada Minggu mulai pukul 19.00 hingga 21.00. setelah dari pasar mereka diperintahkan pergi ke pendopo kabupaten dan di sana katanya baju pengganti akan disediakan oleh Pak Bupati
Menurut sang penelepon, kegiatan tersebut sebagai ritual tolak bala sekaligus wujud rasa syukur dari para guru atas rekomendasi DPP PDI-P kepada Bupati Suwandi untuk maju lagi dalam pilkada Mojokerto 2010.Penelepon meyakinkan juga bahwa mereka orang yang pas untuk melakukan ritual tersebut. Dia bilang, orang yang dipilih melakukan ritual ini hanyalah yang berbadan tegap dan tinggi. kompas.com